Read Mey's Minds

About love, life, sometimes hateful thoughts…

Apology Management 15/03/2010

Filed under: My Diary — Mey @ 21:49

Jangkauan ilmu manajemen memang sangat luas. mulai dari manajemen pemasaran, SDM, operasional, keuangan, sampai yang paling up to date, kita mendengar tentang manajemen resiko, manajemen inovasi, manajemen pengetahuan, bahkan manajemen Qolbu.

Bagaimana dengan Apology Management ? Tentang mengelola suatu permintaan maaf. Sesuatu yang tampak remeh dan sepele, tetapi tanpa sadar sering kita lakukan dan seringkali mengacaukan hidup kita ketika permintaan maaf kita ditolak.

Pernah anda bertengkar ?

Siapa yang selama hidupnya tak pernah bertengkar ?

Ya, beberapa bulan terakhir ini memang bisa dibilang aku seperti sedang bertengkar dengan seseorang. Sebenarnya dibilang bertengkar, tidak juga. Tidak dapat dikatakan bertengkar secara langsung. Kalau dibilang baik – baik saja, juga tidak tepat. Entah sejak kapan kami berhenti berbicara, tidak ada lagi cerita – cerita, yang ada hanya sindiran – sindiran sinis yang lucunya tidak pernah diungkapkan face to face.

But, that’s alright. Sekarang semuanya sudah normal. Sudah kembali seperti semula. Mungkin kami sama – sama lelah berkonfrontasi tak jelas seperti kemarin dan akhirnya semua memutuskan untuk berdamai dengan keadaan, mengalah pada diri sendiri, dan mencoba memperbaiki semua yang pernah retak.

Kalau boleh jujur, selama masa – masa dingin itu, ada beberapa hal yang tidak bisa kutoleransi dari dirinya. Ada beberapa kebiasaan buruk yang belum bisa kuterima. Dan biasanya aku tidak pernah sungguh – sungguh bisa memaafkan orang seperti itu, bagaimanapun keadaannya.

Tetapi kali ini, entah mengapa aku memaafkannya. Sungguh – sungguh memaafkannya. Mengapa ?

Mungkin karena situasi. Mungkin karena aku yang mulai lelah menyimpan kebencian. Mungkin karena aku mulai menyadari inilah saatnya berusaha berdamai dengan diri sendiri dan dengan keadaan.

Situasi kami saat itu memang rumit, sangat rumit. Kami terjebak dalam situasi serba sulit berantai yang membutuhkan banyak, sangat – sangat banyak, kesabaran dan kelapangan hati agar bisa saling mengerti. Kita semua bisa berkata dengan mudahnya, “Dia belum cukup dewasa untuk bisa melewati ini semua.” Kita juga bisa berpikir dengan mudahnya, “Dia sungguh – sungguh irrasional dan hanya bisa memperburuk situasi yang ada.” Namun kita sendiri belum tentu bisa bersikap cukup dewasa dalam menghadapi kerumitan yang ada. Bahkan tindakan yang wajar dan rasionalpun bisa jadi tidak dianggap benar ketika tindakan tersebut kenyataannya justru melukai orang lain.

Awalnya memang berat rasanya menerima kerumitan dan segala efek buruknya terhadapku. Ada masanya, entah sekitar berapa hari, aku menghabiskan waktu dengan berdiam dan menyalahkan banyak orang dalam hati. Nikmat rasanya membenci dan menyalahkan orang lain. Namun entah sejak berapa lama sesudah itu, akhir – akhir ini aku semacam tersadar dari mimpi buruk, terbangun dari hibernasiku. Setelah mencoba menyendiri selama beberapa hari, aku mencoba menerima keadaan dan memaafkan semua orang, juga (sampai saat ini)berusaha memaafkan diriku sendiri dan meminta maaf pada semua orang.

Aku memaafkannya karena aku mencoba mengerti situasinya. Aku berusaha memandang keadaan dari perspektifnya. Dan ketika kini aku mulai menyadari bahwa keadaan kami sesungguhnya tidak jauh berbeda, aku mulai memaafkannya.

Seorang peneliti memiliki hipotesis bahwa kondisi fisik seseorang berkaitan erat dengan kondisi mentalnya. Dengan kata lain, apabila suasana hati kita tidak kondusif, hal ini akan memberikan efek – efek negatif tertentu pada keadaan fisik kita.

Bertahun – tahun aku mempertahankan argumenku dan menolak untuk benar – benar mempercayai hipotesis itu. Aku berpendapat bahwa kita bisa mengatur / memprogram kondisi mental kita, jika kita cukup bijak untuk jujur pada diri kita sendiri dan jika kita cukup rasional untuk menyadari bahwa kita tidak bisa bersikap manja, egois, dan kolokan. Dan menurutku, sejauh mana kondisi mental seseorang dapat mempengaruhi kondisi fisiknya, semua itu juga tergantung dari karakter masing – masing individu. Seiring dengan pertambahan usia, selayaknya kita mengikis kemanjaan kita, memperkokoh batin kita, tetap bersikap rasional dan profesional, sehingga sebisa mungkin seburuk apapun suasana hati kita tidak akan memberi efek berantai pada tubuh kita.

Tetapi beberapa bulan terakhir ini, sepanjang masa – masa dingin ini, aku mulai merasakan dan memikirkan beberapa hal. Mulai menyadari beberapa hal dan mulai bisa menerima beberapa, bahkan banyak hal. Pemikiran dan argumen – argumen memang tidak berubah, tetapi aku bisa menerima hipotesis tersebut dan dengan lapang dada memberi toleransi. Dan akupun mulai memaafkan.

Cukup dengan satu toleransi dan satu kata maaf, situasi yang semula dingin perlahan menghangat dan beranjak kondusif. Cukup dengan sepotong kata maaf yang sungguh – sungguh.

Mengapa kata maaf begitu penting ? Maaf, hanyalah sepotong kata sederhana, yang belum tentu diikuti tindakan aktual. Semua orang bisa dengan mudah mengatakan maaf dan bersikap manis di depan orang lain, but who knows what they are really thinking inside their mind.

I myself often do that. Sedikit memalukan memang mengakui hal ini di depan publik, but it is reality. Seringkali kita memposisikan kata maaf hanya sebagai sebuah formalitas. Kita mengatakan maaf hanya untuk mendinginkan suasana yang memanas. Kita mengatakan maaf hanya untuk menyenangkan hati orang lain, padahal sesungguhnya dalam hati kita bersungut – sungut dan mengumpat orang tersebut.

It sounds ridiculous. Why ? Karena seringkali kita melakukan hal percuma tersebut justru kepada orang – orang yang kita sayangi. Keluarga kita, sahabat kita, pacar kita. It is so ironic, isn’t it ?

Masih ingatkah saat kita masih berumur sekitar 13 atau 14 tahun ? Usia – usia pre-teen saat kita mulai mengenal jalan bareng dengan teman – teman segeng ke mall, mulai senang bersms telepon chatting atau BBM-an dengan sahabat – sahabat kita, dan mulai merasakan apa yang dinamakan cinta monyet. Saat – saat kita ketahuan memakai uang SPP untuk membeli barang apapun yang kita inginkan. Apa yang kita katakan pada orangtua kita saat itu ? Maafkah? Ya, maaf. Dengan muka menahan tangis dan kepala tertunduk kita mengucap maaf padahal pada saat yang bersamaan kita berbicara dalam hati, “Ah pake maaf aja udah beres. Kapan – kapan kalo kepepet diulangin lagi juga ga ngaruh, tinggal pinter – pinternya gue akting depan bonyok.”

Masih ingatkah saat kita berumur sekitar post-teen ? Sekitar umur 17 tahun atau lebih. Saat kita lebih memilih untuk berkencan dan berbohong pada sahabat – sahabat kita (thanks for Mr. D**** R******* for our funny experience before =D). Apa yang ada di benak kita saat kita mengatakan maaf ?

Atau saat kita sedang cekcok dengan pacar, lalu dengan bersungut – sungut kita meminta maaf untuk meredakan panasnya suasana padahal dalam hati kita sedang mengumpat dan berargumen tentang betapa egoisnya pacar kita.

Lalu untuk apa kata maaf itu diucapkan ?

Jika kami sudah belajar untuk saling memaafkan dengan sungguh – sungguh, mengapa anda tidak mencoba ?

Tidak ada yang salah dengan meminta maaf, demikian pula sebaliknya, tidak ada juga yang salah dengan tidak meminta maaf apabila kita dihadapkan pada keadaan yang memang tidak perlu ada kata maaf. Yang terbaik adalah adanya tindakan aktual, bukan pada ada kata maaf atau tidak.

=)

150310 2150

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s