Read Mey's Minds

About love, life, sometimes hateful thoughts…

Jarak… 15/03/2010

Filed under: My Diary — Mey @ 23:59
Tags: , , , , , ,

—ring ring—

………………..

—ring ring—

“Ergh… Halo… Halo ?”

—1 missed call—

Ooh. Lagi – lagi 3 jam. Waktu terlama memejamkan mata sela kurang lebih beberapa minggu terakhir ini. Tinggal menunggu waktu saja sampai tubuh ini menggelepar di ranjang rumah sakit lagi. Mendadak aku teringat pada panggilan tak terjawab yang membuatku terbangun tadi. Satu panggilan dari teman sekelasku, paling – paling bertanya apa hari ini aku lagi – lagi terlambat atau ingin titip absen saja karena lebih senang bergaul dengan bantal dan selimut di ranjang. Kupikir ini sudah terlalu terlambat untuk bersiap pergi ke kampus dan kukira temankupun sudah cukup mengerti kebiasaanku, jadi kudiamkan saja panggilan tak terjawab itu.

Kuletakkan ponsel di sudut ranjang dan aku beranjak membuka tirai. Kupikir seharusnya matahari sudah cukup tinggi, ternyata tidak. Pagi ini mendung dan muram. Kulihat jam di atas meja masih menunjukkan pukul 07.30. Ini masih cukup dini, sayang sekali kantukku sudah terlanjur lenyap. Tadinya kupikir aku masih bisa terlelap sejenak lagi.

Kulayangkan kembali pandanganku keluar jendela. Satu hal menyenangkan apabila kamar kita berada di lantai 2 adalah kita dapat lebih leluasa memandang langit, memperhatikan tata kota di sekitar kita, dan lebih tersembunyi saat kita iseng – iseng ingin mengintip orang di luar rumah. Kudengar bunyi denting gembok dari bawah, ternyata dia.

Sesosok pengemis tua mengenakan jilbab dan setelan kebaya lusuh berwarna hijau kumal. Mengetuk – ngetuk pagar rumah dengan gembok hingga timbul dentingan berisik yang menggelitik gendang telingaku. Kudengar juga suara derap langkah kaki sopirku, terburu – buru memberikan uang seadanya kepada pengemis itu. Pengemis itupun beranjak ke rumah sebelah.

Entah mengapa setiap aku terjaga, entah sengaja atau tidak, sekitar pukul 7 pagi, pemandangan inilah yang selalu kulihat. Pengemis yang sama, kostum yang serupa, derap langkah sopir atau pembantuku yang berlarian memberikan uang.

Kuputuskan untuk beranjak dari ranjang dan segera mandi. Tak terlalu penting memikirkan pengemis itu. Tak masalah, walaupun karena dia, timbullah dentingan berisik yang mengganggu tidurku hampir setiap sekitar pukul 7 pagi.

Sekitar pukul 10 aku sudah tenang di dalam mobil bersama sopirku di jalanan Soekarno – Hatta. Misi rutin pertama kami, berburu sarapan. Misi selanjutnya, berkelana entah ke mana. Mengikuti arah angin bertiup, ujar sopirku. Entah apa yang kupikirkan tentang hidupku. 17 tahun berlalu. Muda, berkecukupan, cukup cerdas. Sayangnya, gemar menyia – nyiakan waktu.

Seharusnya aku ada di kelas. Kelas menggambar teknik yang sangat, sangat membosankan. Seharusnya aku tidak perlu membolos seperti ini. Seharusnya kutekan egoku dan kuhadapi saja lingkungan teknik yang memuakkan itu. Seharusnya aku sadar dan mensyukuri hidupku karena sesungguhnya ada begitu banyak orang yang ingin ada di posisiku saat ini. Sayang, egoku tak bergeming.

Mendung semakin gelap dan tak lama kemudian turun hujan. Kukatakan pada sopirku agar menepi di tepian jalan Sukarno – Hatta. Biasanya aku senang berputar – putar kota tanpa tujuan sambil mengamati tingkah laku orang – orang. Namun hujan kali ini terlalu deras. Kurang nyaman rasanya.

Aku dan sopirku menepi di jalanan depan kompleks Taman Krida Budaya, bersama banyak orang yang juga menepi dan berteduh di pinggir – pinggir jalan maupun di dalam kompleks. Tak sengaja, aku melihatnya. Lagi. Yang kedua kalinya dalam satu hari ini.

Pengemis tua itu. Masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi pagi. Kali ini ia tak sendiri. Duduk berteduh ditemani seorang gadis kecil. Mengenakan kaus lengan pendek bergambar beruang yang warna merah mudanya telah pudar dan celana pendek selutut warna cokelat kumal. Rambutnya lurus dikuncir kuda. Gadis kecil itu berkulit cokelat gelap, mungkin karena sering terpapar sinar matahari.

Mereka berdua jelas bukan orang yang berkecukupan. Jelas bukan orang yang berpendidikan tinggi. Jelas bukan orang yang pernah mencicipi gaya hidup yang nyaman bahkan mewah. Tetapi mereka di sana, di pinggiran bangunan Krida Budaya itu, yang pastinya kebasahan terkena air hujan yang terbawa angin, duduk berdampingan dengan sangat akrab. Aku tahu mereka berdua kedinginan, namun raut wajah mereka memancarkan kehangatan. Ibu dan anak mengobrol berdua dengan akrabnya, bersenda gurau dengan nyamannya.

Sedangkan aku di sini, diliputi kenyamanan semu, hanya ditemani seorang sopir. Seorang sopir yang bahkan lebih dekat dan lebih mengenalku dibandingkan ibuku sendiri. Ya, ibuku. Entah sudah berapa lama kami seolah sedang melakukan gencatan senjata, semacam perang dingin. Bukan disengaja, semua terjadi begitu saja karena keadaan tak kondusif yang konstan tercipta di rumah. Sekali, dua kali, dengan senang hati kutepiskan egoku, kuluangkan waktu sejenak berubah menjadi badut rumahan untuk mencairkan suasana rumah yang beku. Namun ketika suasana gencatan senjata ini terus – menerus terulang, aku mulai lelah. Dan kini aku lelah.

Untuk entah yang keberapa kalinya, ibuku memperburuk suasana rumah, yang memang dari asalnya sudah buruk, karena satu permasalahan yang sama. Memang, besar kecilnya masalah sifatnya relatif. Dan akupun tahu benar hal itu. Pokok perkara ini memang sekadar hal sepele bagiku, sebaliknya ini termasuk hal yang besar bagi ibuku. Dan lagi – lagi entah untuk yang keberapa kalinya, lidah kelu menjelaskan argumentasi yang sama seperti yang telah kulontarkan sebelumnya. Tetap saja ibuku tak mau mengerti. Bukan tak bisa, melainkan tak mau. Mau dibawa ke mana lagi hubungan ini kalau untuk saling mengerti saja sudah tak mau.

Aku tidak menuntutnya menuruti semua permintaanku. Aku tidak menuntutnya untuk selalu memaklumi kesalahan maupun kelakuan anehku. Aku hanya ingin sedikit dimengerti dan sedikit saja dipercaya. Aku tak bisa dan tak mau hidup sendiri selamanya, seperti ibuku. Aku ingin punya teman dan diliputi kehangatan. Meskipun semua itu akan kubayar mahal. Seperti pengemis tua yang kuamati ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s