Read Mey's Minds

About love, life, sometimes hateful thoughts…

Memandang langit 15/03/2010

Filed under: Short Stories — Mey @ 23:00
Tags: , , , , ,

Saat itu hujan tidak turun. Hujan itu hanya ada dalam khayalanku semata. Hujan itu turun di hatiku. Hujan itu turun di mataku.

Langit memang mendung. Mungkin sebentar lagi benar – benar akan turun hujan. Sebentar lagi, tidak saat ini. Tapi kuanggap saat ini hujan sudah turun.

Hujan sudah reda. Lalu aku memandang langit. Sesaat setelah hujan itu berhenti. Dan aku menoleh ke belakang…

***
Masih terbayang pertengkaran tadi. Dan pertengkaran demi pertengkaran yang dulu pernah kami lalui. Kecil, tidak besar. Tapi aku sadar, kami berpijak pada sebuah perahu yang besar dan kuat, sayangnya tak seimbang. Kami bertekad menyeimbangkannya. Kami melalui masa – masa itu dengan bahagia. Namun ketika sesekali perahu itu bergoyang, aku tak kuasa berteriak menyuruhnya diam, jangan terlalu banyak bergerak. Dan dia pun melakukan hal yang sama padaku. Akhirnya perahu kami bergoyang semakin keras. Kami pun tenggelam, hanyut larut bersama ganasnya ombak.

Kami pun terluka……….

***
Kami pernah menapaki jalan berbatu. Kami terpeleset, jatuh, dan terluka. Kami saling menyalahkan. Kami pun berpisah. Berjalan sendiri – sendiri menuju tujuan kami masing – masing.

Sekali lagi terluka……….

***
Kami pernah menaiki tangga yang rapuh. Kami terus bergerak saling dorong. Akhirnya tangga itu roboh. Kami jatuh dan terluka……..

Lagi – lagi luka. Luka demi luka tertoreh dalam hati kami. Itukah nikmatnya cinta ? Itukah bunga – bunga cinta ? Tidak. Itu ujian bagiku. Itu ujian bagi kami. Mudah menciptakan cinta. Sedikit sulit mengungkapkannya. Sangat sulit mempertahankannya. Terlebih bila cinta didasari ketidakpercayaan di antara masing – masing pelakonnya.

Kami memang sering saling tak percaya. Itulah sebabnya perahu kami rapuh. Jalan kami berbatu. Tangga kami rapuh. Kami terhanyut. Kami terjatuh. Kami terluka.

Namun kami berusaha bangkit. Setelah terkatung – katung di tengah lautan, kami terdampar di pantai asing. Di sana kami memulai hidup baru. Membuat perahu baru yang lebih kuat, kokoh, dan lebih seimbang.

Setelah berpisah di jalan berbatu itu. Kami tersesat dan mulai saling memanggil. Kami bertemu dan kami kembali menyusuri jalan berbatu itu bersama – sama. Dengan tekad yang lebih bulat dan kepercayaan yang makin kuat.

Setelah terjatuh dari tangga yang rapuh. Kami sama – sama kesal. Kesal pada diri masing – masing dan pada tangga kami yang begitu rapuh. Kami bangun sama – sama memperbaiki tangga yang sudah hancur itu.

Perahu kami memang pernah hanyut. Kami memang sama – sama pernah tersesat dalam gelap. Tangga kami memang pernah hancur. Tapi kami bangkit kembali. Mulai dari awal lagi. Sulit memang. Namun itulah hidup. Saat kesulitan dirasa semakin menyesakkan nafas kita, sesungguhnya saat itulah kemudahan sedang mendekat pada kita.

Hujan tidak jadi turun. Awan – awan di langit tertiup angin entah ke mana. Matahari bersinar cerah sekali. Sinarnya yang hangat mengisi ruang kosong dalam rumahku. Menerangi labirin – labirin gelap dalam hatiku.

Aku tak jadi memandang langit. Aku tak ingin hujan turun. Aku tak ingin angin bertiup kencang. Aku sudah bosan menoleh ke belakang.

Namun, apabila aku ingin memandang langit…..

Sesaat setelah hujan itu berhenti…..

Lalu aku menoleh ke belakang…..

Hanya satu yang ingin ku lihat…..

Hanya satu yang ingin ku tatap matanya…..

Ku harap ada dirimu…..

(high school never ends =D)

 

2 Responses to “Memandang langit”

  1. cerita yang cukup bagusss🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s