Read Mey's Minds

About love, life, sometimes hateful thoughts…

Bahagianya adalah bahagiaku 16/03/2010

Filed under: My Diary — Mey @ 00:39
Tags: , ,

Egoisme. Hasrat manusiawi untuk mengejar kebahagiaan sejati. Ketamakan. Kemunafikan.

Adakah yang bisa menunjukkan seberapa besar jarak yang ada di antaranya ?

Aku mengenalnya di saat yang kurang tepat, memang benar.

Aku memutuskan bahwa dialah yang kuinginkan bahkan di saat yang benar – benar tidak tepat, itu juga benar.

Aku bertanya padanya dan semua orang yang menyisihkan waktu untuk mendengar keluh kesahku, apakah aku salah ? Apakah perasaanku salah ? Dia dan mereka bilang tidak.

Aku bercermin dan bertanya pada diriku sendiri, apakah tindakanku benar ? Bayang – bayangku mengangkat sebelah tangannya dan mencengkeram ujung kerahku. Ia menamparku dan memaki betapa aku seorang wanita yang rendah.

Aku bersandar di ujung ranjang. Menghela nafas dalam – dalam sambil memandang ke luar jendela. Sering kulakukan hal ini ketika aku resah. Teringat masa – masa sebelumnya saat aku sering memaki wanita – wanita yang kuanggap rendah karena berbagai alasan, salah satunya karena senang mengganggu hal – hal yang bukan milik mereka. Dan saat ini akulah wanita rendah itu.

Sama sekali tak terbayang ingin mengganggunya. Hanya sejenak terpikir untuk meyakinkannya bahwa ada aku di sini untuknya. Itu saja, tidak lebih. Tetapi keadaan berubah di luar kendaliku. Tanpa kusadari hatiku dan hatinya telat bertaut sejauh dan sedalam ini. Dan kehadiranku mulai mengganggu.

Seberapa jauh antara egoisme dengan hasrat alamiah manusia untuk mengejar kebahagiaan sejatinya ? Dan seberapa jauh lagi jaraknya dengan ketamakan ? Atau seberapa dekat jaraknya dengan kemunafikan ?

Yang pasti kuhendaki adalah kebahagiaannya, entah denganku, entah dengan orang lain. Melihatnya bahagia jauh lebih penting daripada egoisme maupun naluri manusiawiku. Melihatnya bahagia dengan pilihannya. Melihatnya bahagia dengan jalan terbaik yang telah digariskan Tuhan untuknya.

Meskipun sesungguhnya belum sedikitpun kusiapkan diri dengan kondisinya yang jauh dariku. Meskipun sesungguhnya naluri manusiawiku menjerit pilu. Meskipun bahkan saat ini aku tak tahu apa yang kurasakan, kuinginkan, dan harus kulakukan untuknya. Meskipun dengan sadar kuakui perlahan aku sedang berjalan mendekati nerakaku sendiri.

Yang terpenting bagiku, dia tersenyum.

Akan kubiarkan dia menjauh, jika memang itu yang dimintanya. Dan aku akan menghilang. Menjalani hidupku dengan senyuman. Mencoba bahagia, menikmati jalan kebahagiaan yang telah aku pilih dengan sadar diri. Karena senyumnya adalah bahagiaku.

231209 1505

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s