Read Mey's Minds

About love, life, sometimes hateful thoughts…

Mengenang dia dalam bayang – bayang langit 16/03/2010

Filed under: Short Stories — Mey @ 00:55
Tags: , , ,

Sesaat setelah hujan itu mereda. Kusingkap tirai kamarku dan kupandang ke luar jendela. Pepohonan di luar masih tampak basah. Juga masih banyak genangan air hujan bercampur lumpur di tepian jalanan. Di tepian itulah kulihat sosoknya.

Dia berdiri di tepian jalan, basah kuyup. Tersenyum ke arahku sambil melambaikan tangan. Mengenakan jaket hitam bertudung kepala dan celana selutut favoritnya. Ingin rasanya kubalikkan badan ini dan berlari sekencang mungkin ke bawah. Atau langsung saja kubuka jendela lalu melompat. Menghampiri dan mendekapnya.

Namun, terlalu rumit.

***

Di sinilah aku. Duduk terdiam bersandar dinding. Kulipat kedua lututku dan kudekap di depan dada. Kutengadahkan pandanganku ke arah langit di luar jendela. Mendung mulai menipis. Rasanya cuaca membaik, hujanku berakhir sudah.

Kuraih sekotak tisu dari atas meja dan kuhapus perlahan bekas airmataku. Tak bisa berhenti memikirkan apa yang kulakukan sekitar 30 menit lalu. Saat kulihat sosoknya di luar. Membangkitkan gairah hidupku dan memacu produksi hormon adrenalinku. Seharusnya aku menghampiri dan mendekapnya. Seharusnya kulakukan hal – hal normal seperti perempuan normal lainnya, seperti manusia normal pada umumnya.

Namun di situlah aku. Tak beranjak dari tempat berpijakku di dekat jendela. Kupalingkan muka dan kututup perlahan tirai kamarku. Kuperhatikan lamat – lamat sosoknya menghilang seiring dengan tertutupnya tirai kamarku. Kurasakan perlahan dadaku terasa nyeri tertikam rindu. Lututku terasa lemas dan aku jatuh terduduk, bermandikan airmata.

Di sinilah aku sekarang. Memandang langit. Berharap. Masihkah dia di sana ? Berdiri dan tersenyum lebar, melambaikan tangan dan menantiku menghampiri lalu mendekapnya. Masihkah dia di sana ? Berdiri di tepian jalanan walau basah kuyup. Masihkah dia di sana ?

Terbayang seraut mimik wajahnya di benakku. Senyum penuh harapnya. Tawa lepasnya tiap kali bergurau. Ekspresi datarnya acapkali tengah memikirkan sesuatu. Sorot matanya yang penuh kasih sayang. Bayangan itu perlahan memudar berganti kegelapan.

Keadaan ini terlalu rumit.

***

Di sinilah aku. Masih duduk terdiam dan bersandar dinding di tempat yang sama. Suasana kamarku begitu gelap dan dingin. Begitu dingin mengikis sendi, membuatku susah bernafas. Aku hanya bisa tertunduk, membuat rongga seluas – luasnya di dadaku agar paru – paruku leluasa menyerap oksigen. Detik – detik ini begitu menyiksa. Detik – detik ini bagaikan neraka duniawi. Hingga kurasakan semilir angin hangat menjalari kakiku.

Kurasakan sentuhan hangat menyentuh lengan dan bahuku, membelai rambutku. Menggamit lengan dan mengangkat daguku. Dia duduk bersila di hadapanku. Tersenyum lembut. Tubuhnya dikelilingi cahaya hangat. Dan dia memelukku, menghangatkanku, berbisik di telingaku. Aku sayang kamu, ujarnya perlahan.

Sungguh aku rindu padanya. Entah sejak kapan dia ada di dekatku. Aku bingung. Aku terkejut. Aku bahagia. Tiba – tiba angin bertiup kencang. Perlahan sosoknya menghilang terbawa angin. Dan akupun terjaga.

Aku terjaga. Masih di tempat yang sama. Dengan posisi yang sama. Kulihat langit cerah. Dan aku tak bisa lagi menahan diriku untuk tidak berlari ke bawah. Aku ingin menemuinya. Semoga dia masih ada di tepian jalan yang sama. Semoga Tuhan masih memberiku kesempatan.

Suasana di jalanan ramai. Banyak orang berkerumun entah sedang membicarakan apa. Dia tidak ada lagi di tepian jalan yang sebelumnya. Dia tidak ada di tepian jalanan manapun.

Kurasakan seseorang menepuk bahuku. Menanyakan sesuatu yang membuat kerumitan ini seolah semakin tak berujung.

***

Di sinilah aku sekarang. Masih di sini dan belum ingin beranjak. Setidaknya pasti kuluangkan waktu sejenak berdiam di sini. Di tepian jalanan yang sama seperti saat aku melihatnya dari jendela beberapa tahun yang lalu.

Andai aku bisa kembali pada saat aku berdiri memandang sosoknya dari jendela. Andai aku menghampiri dan mendekapnya. Andai hari itu tidak hujan deras. Andai aku tidak menutup tirai kamarku. Andai dia tidak melangkah ke seberang jalan. Andai pengemudi truk itu tidak terlambat menginjak pedal rem. Andai dia masih hidup dan memelukku saat ini. Andai saja keadaan tidak serumit itu.

Masih kuingat jelas sosoknya saat itu. Berdiri di tepian jalan tepat di seberangku. Waktu sudah berlalu sekitar 40 menit sejak aku duduk terdiam di sini. Memandang kosong ke seberang jalan sambil menggenggam sebuket rangkaian mawar dan lili putih. Rangkaian bunga yang tak pernah absen kubawa ketika berkunjung ke peristirahatannya.

Langit mendung. Aku tak ingin menunggu hingga turun hujan, maupun hingga hujan mereda. Takkan kusia – siakan lagi waktuku seperti beberapa tahun yang lalu.

301209 2323

 

2 Responses to “Mengenang dia dalam bayang – bayang langit”

  1. meandzet Says:

    i know exactly…bagaimana rasa melangkah ke tempat peristirahatannya…membawa bunga yang kurasa tidak pernah cukup cantik utk menggembirakan hatiku ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s