Read Mey's Minds

About love, life, sometimes hateful thoughts…

Langit, malam, hujan, dan Tuhan 21/03/2010

Sedikit heran saat iseng – iseng baca blog statisticku. Tulisan yang jadi top view ternyata “Memandang Langit”. Padahal yang sebelumnya kupikir jadi top view yah kalau bukan “Aina Melukis Langit”, pasti yang “Apology Management”. However, thanks God, thanks anyway, thank you very much to all of you who already read my writings =D

Ada yang bertanya mengapa saya sering menyebut langit dan hujan.

Ada yang bertanya mengapa saya hampir selalu menulis saat malam.

Dan ada yang bertanya mengapa saya tampak tidak dekat dengan Tuhan.

Langit dan hujan. Inspirasi tentang ini muncul saat SMA, dari salah satu sahabat terdekatku (thanks Icha =D). Dia sangat suka hujan, hujan rintik – rintik yang membawa suasana romantis seperti di adegan – adegan serial Korea. Karena dia juga, aku tertular sindrom Korean-drama-maniac. Hahaha =D

Entah sejak kapan aku senang memandang langit, tergila menikmati hujan. Dan sejak itulah langit dan hujan terasa akrab dalam setiap tulisanku. Memandang langit yang biru cerah, penuh dengan guratan – guratan tipis awan. Sebuah mahakarya indah lukisan Tuhan, sarat dengan goresan pena dan kuas kebijakan.

Tidak hanya langit, aku suka senja. Duduk bersandar di teras depan rumah. Memandang cakrawala dari kejauhan. Menatap lamat – lamat matahari terbenam membentuk segaris senja. Guratan siluet kemerahan di ufuk barat. Subhanallah, sungguh menentramkan rasanya.

Dan hujan. Ya, hujan. Hujan adalah lambang kebebasanku. Hujan meruntuhkan sangkar semu yang selama ini mengurungku, memutuskan rantai tak terlihat yang selama ini menjeratku. Hujan sangat mampu memadamkan api, segala bentuk kobaran emosi, merendam bijih – bijih kebencian.

Tuhan dekat dengan hujan. Tuhan ada di dalam hujan. Saat hujan, Tuhan seperti sedang memberiku sepasang mata sementara untuk menerawang dunia lebih dalam dari biasanya. Dari hujan beralih ke Tuhan.

Hubunganku dengan Tuhan bisa dibilang bagaikan dua sisi mata uang. Bertolak belakang dan ironis. Aku bukan orang yang tertib beribadah, dengan tidak bangga kuakui itu. Sekilas pandang, aku bukan sosok orang yang cocok disebut alim, sekali lagi dengan sangat tidak bangga kuakui itu.

Namun hal itu tidak menjamin dan memastikan betapa jauh aku dari Tuhan. Tuhan dekat denganku, sangat dekat. Lebih dekat dari pembuluh nadi di leher kita, seperti wejangan – wejangan guru kita saat SD atau SMP dulu. Memang kenyataannya begitu.

Aku dekat dengan Tuhan, lebih dari yang dibayangkan banyak orang yang mengenalku, bahkan lebih dari yang bisa kupikirkan dan kuprediksi sendiri. Tuhan mengawasi dan mengendalikanku dengan caranya sendiri. Mengatur hidupku dan memberiku keberuntungan juga dengan caranya sendiri. Tuhan adalah misteri dan kita tak pernah bisa benar – benar mengetahui apalagi memahami jalan – jalan yang telah ditataNya.

Karena Tuhan, sekarang aku ada di sini, telah berjuang sejauh ini, mencapai hasil sejauh ini. Aku sangat, sangat berterima kasih.

Karena Tuhan, aku bertemu dengan berbagai macam orang selama hidup ini. Mengembalikan kehangatan keluarga yang entah sudah berapa lama tak kurasakan. Mempertemukan aku dengan sahabat – sahabat terbaikku. Menyadarkanku tentang beberapa orang, yang (baru saja kusadari) selalu ada dan membantu saat aku kesusahan, padahal mereka belum tentu ada saat aku sedang bersenang – senang.

Dan aku merasa lebih dekat lagi dengan Tuhan saat malam, tepatnya saat tengah malam menjelang pagi. Inilah yang membuatku sangat sering menulis saat malam. Seperti sekarang ini, entah dari mana inspirasi datang begitu saja. mengalir deras di benakku. Padahal aku sedang ingin, ingin sekali berbaring santai sambil menonton televisi atau dvd di kamar. Namun dasar inspirasi yang memang (selalu saja sangat) tidak kenal waktu dan lelah, membanjiri otakku tengah malam buta seperti ini.

Aku hanya gadis biasa, yang selalu bergelut dengan tanya. Aku ingin dekat dengan Tuhanku, dengan cara dan pemikiranku sendiri. Mungkin dengan memandang langit malam, ditemani cahaya bulan samar  – samar yang setengah tertudung rembulan, juga ditemani sedikit rintik hujan sejuk dan semilir angin musim yang lembut. Mungkin aku sudah sedikit beranjak lebih dekat dengan Dia.

 

2 Responses to “Langit, malam, hujan, dan Tuhan”

  1. Mohamad Juhro Says:

    Aku suka ini, ya aku benar-benar menyukai tulisan ini, tapi sayang aku tidak bisa memberi komentar, karena aku bukan komentator, juga bukan juri yang pandai menilai.
    Sekali lagi, aku suka ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s