Read Mey's Minds

About love, life, sometimes hateful thoughts…

Love letter III 12/06/2010

Dear Cinta,

Hari ini hujan deras. Seharusnya musim penghujan sudah lewat, tetapi entahlah hari – hari masih saja hujan.

Aku berubah pikiran, Cinta. Tentangku, tentangmu, tentang semua. Inikah saatnya melepaskanmu, Cinta?

I met a guy. Sudah cukup lama sebenarnya. Aku ingin dia menjadi dirimu, awalnya. Semakin lama aku sadar, dia tak mungkin menjadi dirimu. Dan sekarang aku ragu, entahlah. Apa aku menginginkanmu, menginginkannya, menginginkan kalian, atau entahlah.

Seharusnya sudah sejak lama aku melepaskanmu, tetapi aku tak berdaya setiap kali kau muncul di hadapanku. Seharusnya dulu tak kukatakan kita bisa menjadi biasa. Tetapi aku pun tak tega melihatmu pergi. Karena duniaku adalah duniamu juga, dan kusadari benar itu.

Masih hujan deras, Cinta. Jam – jam begini aku selalu sendiri. Biasanya ada dirimu, tetapi entah sudah berapa lama aku memutuskan untuk menghilang. Kau tahu, kita ini seperti “Message in a Bottle”, mengirim pesan melalui dunia lain. Aku tak pernah tahu apa kau pernah membaca surat – suratku. So funny…

Your voice was the soundtrack of my summer
Do you know you’re unlike any other?
You’ll always be my thunder, and I said
Your eyes are the brightest of all the colors
I don’t wanna ever love another
You’ll always be my thunder
So bring on the rain
And bring on the thunder

(Boys Like Girls)

So just say

That you’ll stay awake for me.
I don’t wanna miss anything.
I don’t wanna miss anything.
I will share the air I breathe,
I’ll give you my heart on a string,
I just don’t wanna miss anything

(Secondhand Serenade)

Cinta, dulu aku berpikir untuk menulis ribuan surat untukmu, jutaan puisi, dan semua tulisan yang kuhasilkan akan kudedikasikan untukmu. Aku hidup sejauh ini karenamu. Namun aku sedang mempertimbangkan sesuatu yang lebih besar kali ini.

Sebentar lagi kita akan berpisah, Cinta. Benar – benar berpisah. Dan inilah saatnya, kesempatan ini akan kupergunakan untuk melepaskanmu.

Selamat tinggal, Cinta. Anggap saja ini surat terakhir dariku untukmu. You’ll always be my thunder. Dalam setiap hujan rintik dan kilatan petir, aku akan selalu mengenangmu. Selamat tinggal…

Aku mencintaimu, dan akan selalu begitu…

With Love,

Cinta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s