Read Mey's Minds

About love, life, sometimes hateful thoughts…

Aal Izz Well 16/07/2010

This is my unusual holiday.

Ya, liburan yang tidak seperti biasanya. Biasanya saya akan pulang kampung, ke kota metropolitan tempat ayah saya berdomisili 5 tahun terakhir ini. Tinggal di rumah yang nyaman, dengan makanan lezat dan suasana yang hangat. Menghabiskan waktu dengan berbelanja, bermain dengan saudara – saudara jauh di sana. Semuanya hedonisme. Anggap saja hiburan sejenak, pelarian, pelepasan dari tekanan yang didapat selama satu semester belakangan.

Ya, rutinitas yang membosankan, kata seorang teman.

Kali ini ada sedikit perubahan, liburan yang biasa menjadi tidak biasa. Tidak ada pulang kampung, tidak ada suasana hangat, tidak ada hedonisme. Saya sendirian. Entah kesepian atau tidak, hanya saya sendirian.

Bangun, mandi, bercengkerama dengan notebook kesayangan, makan, mandi, bercengkerama kembali, mungkin makan lalu tidur. Disela sedikit obrolan formalitas di depan televisi di ruang keluarga. Keluar rumah pun, bukannya dilarang, hanya menurut kebiasaan alangkah baiknya tidak dilakukan kecuali ada keperluan mendesak. Keadaan yang hmm juga tidak bisa disebut tidak membahagiakan, karena saya orang yang kadang – kadang cukup betah mengasingkan diri.

Ya, sekali lagi rutinitas yang membosankan, kata seorang teman lainnya.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita. Ada (mungkin salah satu) hal menarik (bagi saya sih) yang saya alami. Dimulai saat saya kelelahan dan kurang tidur karena menonton pertandingan final Piala Dunia 2010, 2 hari berikutnya saya bangun dengan mata berkunang – kunang. Mungkin tekanan darah yang drop, atau kadar gula yang drop, entahlah itu tidak penting disebutkan dalam cerita. Berlanjut sarapan dengan makanan yang mungkin kurang higienis sehingga di hari naas itu, saya berakhir dengan kondisi diare, mual, dan demam.

My mom told me to take some medicine and sleep, but I can’t. I had slept all day long the day before and this day I wanted to do something useful, at least for myself. So I decided to turn on my notebook, downloaded some movies and watched some old movies while waiting for the finished movie downloads.

I chose a Korean movie “A Moment to Remember” and a Hindi movie “3 Idiots”. I kept those movies on my hard disk but I never had a spare time to watch it. Siang itu dimulai dengan menonton film dan berakhir dengan air mata.

Ya, air mata. Jika Anda mengira saya berlebihan, tolong segera tepis pikiran negatif tersebut dari otak Anda karena saya tidak sedang menangis karena terbawa suasana film. Jika Anda mengira sisi sensitif saya sedang tersentuh karena menonton film romantis, tolong segera tampar pipi Anda agar pikiran menyedihkan tersebut hilang dari benak Anda.

Saya menangis karena tersadar seberapa jauh sudah kaki ini melenceng dari jalan impian yang saya rangkai dengan jerih payah selama ini. Ibaratnya saya ini Rancho yang selalu berkata “All Iz Well” yang semakin lama semakin tertekan. Saya bukanlah Rancho maupun orang yang terinspirasi oleh Rancho. Saya hanyalah orang tertekan yang berusaha lari, berusaha menghibur diri sendiri dengan tertawa, melakukan hal – hal konyol, dan berkata “Aal Izz Well”.

Yes, I’m not well, definitely not well. Kerangka yang dibangun susah payah dengan “all is well” berakhir saya jalani secara “not well”. Why? I am not well, because I was too scared and not confident.

Jika kita berjalan mengikuti arah yang kita yakini, dan kita berusaha seoptimal mungkin (constructively), meskipun keadaan saat itu terlihat kurang kondusif dan realistis, percayalah bahwa kesuksesan pasti akan mengikuti kita, dan ya, kesuksesan benar mengikuti kita.

Setelah ku tentukan arah yang ku yakini, justru di titik itulah kepercayaanku sedikit demi sedikit terkikis oleh realita. Tanpa sadar, kekhawatiran dan ketidakpercayadirianku mengarahkan realita untuk menekanku (padahal seharusnya realita menjadi bahan pembelajaran bagiku).

Itulah yang terjadi selama ini. Realita bahwa hidup tidak cukup hanya dilalui dengan kesenangan hari ini membuatku tertekan. Raut muka bahagia orangtuaku pun membuatku tertekan. Memang benar, materi akan membuat kita bahagia, tetapi kebahagiaan tidak terbatas diukur dengan materi. Toh orangtuaku tidak akan bahagia jika mengetahui putrinya memberi mereka kemewahan dengan diliputi tekanan. I do realize it but don’t know why I keep living my life that way.

Ada satu hal lagi. Entah sejak kapan saya menjadi sombong, tak lagi bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Terlepas dari masalah tekanan – tekanan, perubahan ini datang dari dalam diriku sendiri. Greediness, ketamakan. Juga kelicikan. Entah sudah seberapa hitam isi hati ini.

Entah berapa lama waktu yang masih tersisa untuk meminta maaf, bersyukur, dan berterima kasih, akan saya usahakan seoptimal mungkin. I love myself. I love all the things I have, all the things I’ve done. I love all the people around me. And I thank God who has arranged this kind of life for me.

Ini pembelajaran baru bagiku, sekaligus penyadaran. Tentang hidup, tentang pola pikir, tentang persahabatan, tentang kebahagiaan. Aal Izz Well.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s